<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520</id><updated>2011-12-18T17:47:54.548+07:00</updated><category term='Pendidikan'/><category term='Renungan'/><category term='wacana spritual'/><title type='text'>Blog Guru PKn</title><subtitle type='html'>Sekira bermanfaat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abiyadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-1788586460254029547</id><published>2011-12-18T17:00:00.001+07:00</published><updated>2011-12-18T17:13:56.376+07:00</updated><title type='text'>Musik Membuat Hidup Lebih Berwarna</title><content type='html'>Musik merupakan harmonisasi untaian nada dan irama yang menghasilkan alunan lagu. Musik bisa menjadi teman ketika kita sedih. Musik dapat membuat hidup lebih berwarna ketika kita bahagia. Musik meluluhkan hati kita ketika luapan emosi yang tidak terlepaskan. Musik pun menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri yang membuat orang pintar menjadi bijak, yang membuat orang tampak garang tapi hatinya selembut salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda memang penikmat musik.... silahkan klik link di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/"&gt;Download mp3 Gratis&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-1788586460254029547?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1788586460254029547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1788586460254029547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2011/12/mp3-gratis.html' title='Musik Membuat Hidup Lebih Berwarna'/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-2062185496123756466</id><published>2011-01-03T20:04:00.001+07:00</published><updated>2011-01-03T20:19:24.004+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 align="center" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #000099;"&gt; 7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar &lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Penulis : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;a href="mailto:yovan@primastudy.com"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yovan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; &lt;br /&gt;Konsultan di Jakarta &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;Topik: Metode Pembelajaran &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Jika anda seorang pelajar atau mahasiswa, tentunya artikel kali ini sangat berguna bagi anda. Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel tentang pembelajaran sebelumnya, strategi sukses di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani proses pembelajaran, baik di sekolah maupun di kampus, tentu anda menginginkan prestasi yang optimal. Penting untuk disadari bahwa guna mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal tentu faktor yang paling menentukan adalah pada proses belajar itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak individu beranggapan bahwa proses belajar merupakan proses yang sederhana. Hanya dengan membaca materi pengajaran (buku/diktat/modul/kebetan ), memperhatikan dan mendengarkan penjelasan di kelas maka prestasi optimal pasti diraih. Sayangnya pada kenyataannya tidak demikian (kacian deh lu... ). Jika demikian kenyataannya maka tentunya akan banyak sekali individu yang berhasil dalam belajar. Jika demikian maka tidak akan ada bimbingan belajar yang mengedepankan hanya cara-cara ringkas dalam menyelesaikan soal. Dan memang kenyataannya tidak demikian. Banyak siswa/mahasiswa yang telah melakukan hal serupa namun prestasinya tetap kurang memuaskan. Strategi belajar pasif tidak akan pernah memberikan hasil pembelajaran yang diharapkan. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda bahwa guna meraih hasil optimal anda perlu melibatkan seluruh pemikiran aktif saat melakukan pembelajaran. Sayangnya banyak institusi pendidikan (baik sekolah, kampus apalagi bimbingan belajar) yang tidak mengembangkan hal ini. Bagi mereka belajar adalam proses dimana guru mengajar dan siswa menerima. Itu dan hanya itu saja. Wajar saja kemudian sekiranya kualitas pendidikan bangsa ini sedikit kurang dibandingkan negara lain di kawasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dan berpikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dapatkah anda membayangkan bagaimana proses pembelajaran yang tidak disertai dengan proses berpikir. Sayangnya masih banyak individu yang belajar seperti zombie. Dari luar sepertinya mereka belajar namun sebenarnya mereka tidak belajar. Proses belajar dapat dianalogikan sebagai keseluruhan perjalanan mencapai satu tujuan. Sementara berpikir merupakan proses perjalanan itu sendiri, kaki mana yang harus dilangkahkan dan ke arah mana anda perlu melangkahkannya. Selama proses perjalanan anda perlu memastikan bahwa setiap langkah koheren satu sama lain guna mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena untuk mencapai hasil optimal dalam pembelajaran dibutuhkan pemikiran aktif, dan berpikir secara aktif sama artinya dengan berpikir secara kritis, maka artinya proses pembelajaran optimal membutuhkan pemikiran kritis dari si pembelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seperti yang lainnya, kini anda bertanya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Apa yang dimaksud dengan pemikiran secara kritis?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; Pada bagian berikut saya menguraikan seluruh tahapan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pemikiran kritis saat belajar. Harapannya setelah membaca artikel ini, anda tidak melatihnya namun langsung menerapkan dan hanya menanti hasil yang lebih optimal, segera atau beberapa saat setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tentukan hal yang ingin anda pelajari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat melibatkan pemikiran kritis saat belajar, sebelumnya anda perlu benar-benar mengetahui apa yang akan atau ingin anda pelajari. Hal ini sama seperti mengetahui tujuan pergi sebelum anda melangkahkan kaki ke luar rumah. Anda dapat melakukan hal ini dengan memberikan pernyataan seputar materi tersebut. Jika anda mudah lupa, tips dari saya, ikuti training/coaching Prima Memory atau siapkan selembar kertas di dekat anda dan tuliskan berbagai penyataan tujuan anda mempelajari materi tersebut. Anda dapat memberikan berbagai pernyataan sederhana seperti, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Saya penasaran cara kerja pikiran saat seseorang berada pada kondisi hypnosis?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Saya penasaran apa hubungan antara hypnosis dengan peningkatan daya ingat seseorang?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; Intinya semua pertanyaan yang anda tuliskan adalah pernyataan tujuan yang singkat dan sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kumpulkan semua sumber informasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftarkan semua sumber informasi berkenaan dengan materi yang ingin anda kuasai, setelahnya kumpulkan. Anda perlu membuka diri seluas-luasnya pada berbagai sumber informasi, mulai dari buku, makalah, artikel, berbagai sumber di internet, kliping, jurnal, koran, majalah, siaran radio, TV, penjelasan guru/dosen, wangsit, wasiat, wasir dan yang lainnya . Hilangkan semua praduga anda mengenai materi yang ingin anda pelajari, karena praduga anda hanya akan membatasi proses pencarian berkenaan seputar materi tersebut. Semakin banyak sumber informasi yang anda dapatkan semakin baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya anda perlu mencari pula berbagai contoh aplikasi dari hal yang anda telah pelajari. Tahapan ini sering kali dilewatkan oleh banyak individu. Akibatnya proses pembelajaran mereka kurang optimal karena membuat mereka seolah terpisah dengan materi yang sedang dipelajari. Mereka memahami materinya, namun mereka tidak mengetahui aplikasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai contoh aplikasi yang anda temui di lapangan juga dapat membantu anda memfilter informasi mana yang perlu diterima dan informasi mana yang perlu ditolak. Ketika terdapat ketidaksesuaian antara aplikasi di lapangan dan teori yang anda pelajari hal ini merupakan sinyal bagi anda untuk mulai bertanya ke dalam diri, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Haruskan saya terima informasi ini atau saya perlu membuangnya?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; Melakukan hal ini akan semakin memperkuat pemahaman anda akan materi yang anda pelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanyakan asumsi dasar penulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda-beda atas suatu kondisi. Dan seperti yang telah saya ulas sebelumnya pada artikel resolusi konflik melalui modifikasi value, tidak ada satu pun dari pemahaman tersebut yang 100% akurat dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Salah satu kondisi yang kudu dalam berpikir kritis adalah anda perlu memiliki pendekatan seobjektif mungkin atas hal yang anda pelajari dan minimalkan terseret oleh subjektifitas satu pihak, katakanlah si penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan artikel ini, anda perlu melakukan hal yang sama. Tanyakan berbagai pertanyaan yang ada di benak anda saat membaca artikel ini. Bahkan jika diperlukan berikan sanggahan anda atas artikel ini atau pada berbagai artikel lainnya di web site ini. Karena web site ini diorientasikan se-objektif mungkin, itulah sebabnya saya memfasilitasi objektifitas individu melalui media buku tamu atau mailing list. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buat pola sederhana atas materi yang dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel pada majalah Scientific American Mind volume 17, No. 6, Venus in Response mengungkapkan bahwa persepsi individu mengenai kecantikan ternyata lebih ditentukan oleh kesederhanaan. Wajah yang sederhana dan tidak rumit ketika dipandang dianggap sebagai wajah yang cantik. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang menerangkan bahwa pikiran lebih senang dengan keserhanaan. Saya beranggapan hal ini salah satunya disebabkan oleh mekanisme kerja pikiran manusia yang tidak senang dengan kompleksitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam belajar kaitannya dengan pembelajaran. Sangat penting bagi anda untuk membuat pola di pikiran mengenai hal yang telah anda pelajari. Anda perlu membuat hal yang anda pelajari menjadi sederhana namun tidak menyederhanakan (bingung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; kan ). Maksud saya adalah dalam proses belajar anda perlu kemudian membentuk pola namun tidak terlalu mereduksi berbagai informasi yang penting. Jika anda melakukan hal ini maka kualitas pemahaman anda yang dikorbankan. Salah satu cara untuk membentuk pola atas hal yang dipelajari adalah dengan menggunakan peta pikiran (mind map). Dengan menggunakan mind map maka anda tidak hanya membentuk pola dengan melihat seluruh gambaran besar dari informasi yang anda pelajari, namun anda juga mengetahui hubungan antara masing-masing informasi tersebut. Sebagai tambahan, hal ini juga mempermudah anda dalam mengkomunikasikan hal yang anda pelajari kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tanya ??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan pola dari materi yang anda pelajari maka tahapan selanjutnya adalah menanyakan kembali berbagai informasi yang telah anda pelajari kepada diri anda. Hal ini salah satunya ditujukan untuk mengaktifkan pikiran anda dan terus mengembangkan berbagai hal yang telah anda pelajari. Dengan bertanya anda mengindentifikasi berbagai hal yang mungkin belum anda kuasai mengenai materi yang anda kuasai. Tanyakan berbagai pertanyaan yang memancing untuk memperbesar medan pemahaman anda misalnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Bagaimana kalau begini/begitu?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kemukakan !!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anda belajar mengenai sesuatu tentunya anda ingin mengetahui seberapa baiknya penguasaan anda. Asumsi saya anda belajar untuk memahami suatu materi dan bukan untuk orientasi yang lain, seperti sebatas menaikan nilai misalnya. Nilai merupakan konsekuensi logis atas pemahaman anda. Dengan demikian wajar sekiranya saya merasa aneh ketika mendengar atau melihat iklan berbagai institusi pendidikan yang berbunyi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;menaikan nilai ujian dengan rata-rata sekian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;semua lulusan kami langsung kerja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;. Tidakkah hal itu terdengar seperti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;pemrograman manusia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;. Mungkin memang benar sekarang jaman edan, semuanya serba terbalik . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui seberapa baiknya pemahaman, anda perlu menyatakan kembali berbagai hal yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan melakukan hal ini anda mengetahui sejauh mana dan sebaik apa penguasaan anda atas materi tersebut. Untuk melakukan hal ini anda dapat menerangkan ke orang lain. Namun sebelumnya perlu dijelaskan bahwa tujuan anda adalah untuk meningkatkan pemahaman anda atas materi tersebut dan bukan untuk mempertontonkan kecerdasan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Uji kemampuan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir dari rangkaian tahapan berpikir kritis dalam belajar adalah menguji penguasaan. Serupa dengan tahapan sebelumnya, tahapan ini dilakukan salah satunya untuk mengetahui seberapa baiknya kemampuan anda atas materi yang dipelajari. Bedanya, tahapan ini sedikit lebih mendetil. Sedikitnya ada lima hal yang perlu dilakukan untuk menguji kemampuan anda, antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Daftarkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya memberikan label (nama), mengidentifikasi dan membuat daftar seputar materi yang dipelajari. Hal ini ditujukan untuk mendemonstrasikan berbagai hal yang telah anda pelajari. Dengan kata lain seberapa beragamnya hal yang telah anda kuasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Definisikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya memberikan penjelasan, merangkum dengan kata-kata sendiri dan berbagai cara lainnya. Utamanya dengan merangkum menggunakan kata-kata sendiri, anda mengetahui seberapa baiknya penguasaan anda atas materi tersebut. Selain itu dengan melakukan hal ini anda memadukan pula informasi terbaru dengan berbagai informasi yang telah anda ketahui sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pecahkan masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula di dalamnya memberikan contoh berkenaan dengan materi yang anda pelajari. Dengan melakukan hal ini anda mengetahui pula aplikasi dari materi yang anda pelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bandingkan dengan teori lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pernah mempelajari atau megetahui materi sejenis dari sumber yang berbeda maka anda dapat melakukan komparasi antara keduanya. Melakukan hal ini berarti anda melatih pula daya analisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ciptakan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula di dalamnya mengkombinasikan dan menemukan teori baru. Menciptakan terori bukan hanya hal para peneliti, anda pun dapat dan harus pula melakukannya. Kembangkan teori anda sendiri. Dengan demikian anda mengkristalkan pemahaman anda atas materi tersebut. * Dan yang terakhir, buat rekomendasi anda &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan langkah sebelumnya, namun langkah ini lebih ditujukan bagi orang lain. Menurut saya karakteristik cerdas adalah; mengetahui apa yang diinginkan, mengetahui di mana mendapatkan yang diinginkan dan dapat membuat orang lain mencapai seperti dirinya. Semantara anda membaca artikel ini, saya mengetahui pula bahwa anda adalah seorang yang cerdas sehingga tentuya anda dapat juga membantu orang lain untuk meraih pula berbagai pencapaian anda. Anda dapat melakukan hal ini salah satunya dengan memberikan rekomendasi atas materi yang bersangkutan. Beritahu the do&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;s anda the don&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;�&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;s untuk mempelajari materi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okehh (memang pakai "h" ) , demikianlah artikel kali ini mengenai metode cara mengembangkan pemikiran yang kritis dalam pembelajaran. Kembali lagi harapan saya semoga setelah anda membaca keseluruhan artikel kali ini, anda tidak melatihnya, melainkan hanya melakukannya saja dalam keseharian. Saya penasaran seberapa cepatnya seluruh kemampuan tersebut menyatu dengan diri anda, sekarang atau beberapa saat setelahnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-2062185496123756466?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/2062185496123756466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/2062185496123756466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2011/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html' title=''/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-4298473664922943105</id><published>2010-03-13T17:20:00.000+07:00</published><updated>2010-03-13T17:29:04.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana spritual'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNAYLA&amp;amp;%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNAYLA&amp;amp;%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}h3	{mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	mso-outline-level:3;	font-size:13.5pt;	font-family:"Times New Roman";	font-weight:bold;}a:link, span.MsoHyperlink	{color:blue;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed	{color:purple;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}p	{mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ikaut.blogspot.com/2008/02/sebelas-pintu-dosa-vs-nilai-rapor.html"&gt;SEBELAS PINTU DOSA vs NILAI RAPOR SEKOLAH&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_YMnasPoSCrE/SMOMsN-i_UI/AAAAAAAAAHc/wyTS4COfKgI/s1600-h/kelas.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #006600; font-size: 15.5pt;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;staghfirullahalaziem&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;..........ampuni aku hambaMU yang "jauh dari kesempurnaanMU" ya Allah. Sabtu subuh, saya memperoleh peringatan dari hamba Allah yang lain melalui wasilah, bersama jemaah lain yang intinya meminta maaf. Berbicara tentang “&lt;b&gt;maaf&lt;/b&gt;” Saya lalu teringat dengan pojok kiri Koran SINDO dua hari yang lalu dengan pesan simpatik kira-kira seperti ini “&lt;i&gt;pemberian maaf memang tidak akan mengubah apapun tentang masa lalu, akan tetapi setidaknya akan berpengaruh besar terhadap masa depan&lt;/i&gt;”. Diterangkan oleh penceramah di forum Subuh-an tersebut, bahwa tiada seorang manusiapun yang luput dari dosa, kekhilafan dan kealpaan, kecuali hamba Allah yang maksum, karena kehendak Allah untuk menjaga dari "&lt;b&gt;dosa&lt;/b&gt;", seperti halnya Rosulullah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh karenanya hanya dengan beristighfar dan menjalankan kehidupan yang "&lt;b&gt;bermanfaat bagi diri sendiri serta hamba Tuhan yang lain&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;menjalankan Shahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan ber Haji bagi seorang muslim/muslimah)&lt;/i&gt; maka kita boleh berharap "sedikit", Allah akan mengampuni kita. Sedangkan yang "&lt;b&gt;banyak&lt;/b&gt;" adalah otoritas Allah dengan segala keMahaKuasaNya serta keMaha PengasihSayangNya.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;emula saya agak terkejut saat sang ustadz menyampaikan peringatan mengapa wirid istighfarnya diajarkan minimal 11 kali?, alasannya karena minimal kita melakukan "&lt;b&gt;dosa&lt;/b&gt;" melalui 11 pintu masuk, yaitu; 2 mata, 2 lubang hidung, 1 mulut, 2 telinga, 2 tangan dan 2 kaki. Secara harfiah memang itulah lubang-lubang masuknya impuls pandangan, pendengaran serta keluarnya ucapan dan cengkeraman jemari serta langkah kaki yang dapat berkontribusi menentukan dosa tidaknya kita.Orang Betawi bilang "&lt;b&gt;ngeliat&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;tidak sengaja&lt;/i&gt;) pada sesuatu objek pandangan yang diharamkan tidaklah dosa, namun kalau "&lt;b&gt;ngliatin&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;dengan sengaja&lt;/i&gt;) pada suatu objek yang di haramkan tentulah itu suatu perbuatan dosa. Demikian pula "&lt;b&gt;mendengar&lt;/b&gt;" belum tentu dosa, namun kalau sengaja &lt;b&gt;mendengarkan&lt;/b&gt; sesuatu "&lt;i&gt;ghibah/ kejelekan dan menjelek-jelekan orang lain&lt;/i&gt;" seperti ngrumpi, hal itu tidak ubahnya seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Ini adalah tuntutan agama, yang hampir semua ichwan saya sesama muslim/muslimah harusnya tahu. Saya semakin tertunduk lesu, mengingat 11 pintu perbuatan dosa secara harfiah yang melekat dan dititipkan oleh pemilikNya ada di tubuh saya. Walaupun saya juga sadar betul bahwa 11 pintu penyebab dosa itu hanyalah alat atau indera yang secara motorik tunduk serta patuh kepada perintah yang berasal dari kumpulan syaraf pusat yang namanya &lt;b&gt;&lt;i&gt;cerebrum&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;cerebellum&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;otak besar dan otak kecil&lt;/i&gt;). Jadi sebenarnya kesebelas pintu dosa di atas bisa menolak seluruh keterlibatan "&lt;i&gt;kong kalikong&lt;/i&gt;" perbuatan dosa, mengingat organ indera tersebut hanyalah menjalankan perintah. Namun saat otak diperiksa “&lt;i&gt;jaksa penuntut&lt;/i&gt;” di akherat, untuk mempertanggung jawabkan segala dosa yang diperbuat, maka otakpun dapat ingkar, dengan alasan sekedar menyimpan impuls "&lt;b&gt;kemauan&lt;/b&gt;" untuk kemudian direflesikan ke panca indera menjadi produk perbuatan. Lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan dosa itu?. Saat otak dan ke 11 pintu dosa duduk untuk menjalani Berita Acara Pemeriksaan (&lt;b&gt;BAP&lt;/b&gt;), maka muncullah kesaksian baru bahwa sang dalang yang menggagas dan mendesain rencana besar perbuatan dosa tersebut adalah Qalbu. Malam Jum'at yang lalu saya sudah minta informasi kepada pak ustadz yang lain, untuk mengklarifikasi nama lain dari Qalbu itu, dan jawabannya adalah hati. Tapi hati yang dimaksud ini bukanlah hati dalam pengertian anatomis organ &lt;b&gt;&lt;i&gt;Hepar&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, apalagi saat kita merasakan sakit hati karena suatu peristiwa, lalu kita pegang dan atau elus-elus bagian depan dada, sambil berbicara "&lt;i&gt;sakit deh hatiku&lt;/i&gt;!". Padahal yang kita pegang adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;jantung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; kita yang sedang berdebar-debar saat memperoleh rangsang dari luar yang menimbulkan kenaikan rithmis pacuan denyut jantung.Itu sebabnya "&lt;b&gt;akal"&lt;/b&gt; yang dimaksud sebagai syarat seseorang hamba Allah menjalankan agama bukanlah sekedar otak sebagai pusat pikiran, akan tetapi juga Qalbu sebagai pelaku utama yang merencana &lt;i&gt;(membuat dan mengambil keputusan&lt;/i&gt;) untuk memproduk suatu perbuatan, bahkan akan menjadi suatu kebiasaan. Nah dosa tidaknya perbuatan yang diproduk tersebut, harus dibandingkan dengan standar perbuatan (&lt;i&gt;benchmark standardize)&lt;/i&gt; yang ada di dalam pedoman (&lt;b&gt;Al Qur'an&lt;/b&gt;), tuntunan agama (&lt;b&gt;Hadist Nabi&lt;/b&gt;) dan atau standar perilaku sosial kemasyarakatan (&lt;i&gt;Sopan santun, adat istiadat&lt;/i&gt;) yang dijalani bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang,..........mulai semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008 ini, nilai hasil belajar peserta didik (NILAI RAPOR) di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah hampir di seantero tanah air, tidak lagi mencantumkan nilai hasil kinerja "&lt;b&gt;qolbu"&lt;/b&gt; yang sering kita sebut sebagai afeksi (&lt;i&gt;seperti kejujuran, kelakuan, kerajinan, kesetiakawanan, empaty, simpaty dll)&lt;/i&gt;, karena sudah dijadikan satu (&lt;i&gt;melalui cara menjumlah dan merata-rata&lt;/i&gt;) dengan nilai kinerja otak yang sering kita sebut sebagai kognisi dan keterampilan kinestikal 11 pintu dosa. Pembenarannya nilai ketiga aspek (&lt;i&gt;kognitif, psikomorik dan afeksi&lt;/i&gt;) cukup ada di dokumen Gurunya saja, sedangkan di dalam Laporan Hasil Belajar (&lt;i&gt;Rapor&lt;/i&gt;) peserta didik cukup satu nilai hasil perhitungan reratanya). Astaga!, bagaimana ceritanya afeksi dirata-rata dengan kognisi dan psikomorik?. Barangkali inilah yang disebut dengan korban peribahasa yang sering diajarkan guru Bahasa Indonesia kita dulu, bahwa "&lt;i&gt;rajin itu pangkal pandai&lt;/i&gt;", walaupun kenyataannya berbeda, karena Allah sudah menciptakan kepandaian seseorang hambaNya, jauh sebelum peserta didik bersangkutan bersekolah di jenjang pendidikan dasar dan menengah. &lt;b&gt;Banyak anak pandai bukan karena rajinnya saja, seperti halnya banyak pula anak yang rajin tapi tidak pernah pandai &lt;/b&gt;&lt;i&gt;(sesuai ukuran normatif tingkat kecerdasan psikologis/IQ)&lt;/i&gt;&lt;b&gt;,&lt;/b&gt; karena memang hanya &lt;b&gt;Allah yang Maha Tahu&lt;/b&gt; tentang &lt;b&gt;kebaikan&lt;/b&gt; dibalik kondisi setiap hamba ciptaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;emoga penutup tulisan ini tidak diplesetkan dengan ungkapan bahwa penulis melakukan aktivitas "&lt;i&gt;pendidikan paradoks- kontraproduktif&lt;/i&gt;", namun memang itulah yang terjadi dan bisa diungkapkan berdasar pemahaman "&lt;i&gt;keterbatasan pikiran manusiawi". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Perbedaan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;bukanlah untuk diperdebatkan tanpa makna dan solusi tindak lanjut untuk menjadikan sesuatu berproses &lt;b&gt;lebih baik&lt;/b&gt;, karena hakekat perbedaan adalah&lt;i&gt; "rahmat" &lt;/i&gt;serta&lt;i&gt; keabadian,&lt;/i&gt; dan kita semestinya mensyukurinya!.&lt;i&gt; Perdebatan ilmiah&lt;/i&gt; yang muncul sebagai respon dan tanggapan dari masalah ini, justru akan memperkaya khasanah serta wacana kita, agar segera dapat diSEMINAR-kan oleh Pengurus Pusat atau Wilayah IKA UT Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Subhanallah, Allah Maha Tahu.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-4298473664922943105?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/4298473664922943105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/4298473664922943105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2010/03/sebelas-pintu-dosa-vs-nilai-rapor.html' title=''/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-1126109699236302389</id><published>2009-11-01T06:05:00.000+07:00</published><updated>2009-11-01T06:05:04.172+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pembiayaan Sekolah Berbasis Kualitas (Pengalaman Sukma Bangsa)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt;"&gt;Ditulis tanggal : 21 Agustus 2009 | Pukul : 09:17:14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"/&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"/&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect"/&gt;  &lt;o:lock v:ext="edit" aspectratio="t"/&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style='position:absolute; margin-left:0;margin-top:8.8pt;width:225pt;height:135pt;z-index:1; mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0; mso-position-horizontal-relative:text;mso-position-vertical-relative:line' o:allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Admin\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg"  o:title="4315bnt60"/&gt;  &lt;w:wrap type="square"/&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;ISU pembiayaan sekolah menjadi penting jika dikaitkan dengan digulirkannya kebijakan anggaran pendidikan 20% mulai tahun anggaran 2009/2010, baik yang harus disediakan dalam kerangka APBN maupun APBD. Kajian tentang pembiayaan sekolah (school funding) menjadi relevan mengingat sistem pendidikan kita belum menganut asas pembiayaan sekolah secara integral yang berorientasi pada pengembangan aspek kualitas sebagai target pembiayaan sekolah. Isu pembiayaan sekolah bermutu (school quality funding) masih dihitung secara minimal, yaitu menyangkut besaran subsidi dari pemerintah untuk tiap siswa pada setiap tingkat satuan pendidikan. Perdebatan yang ramai dibicarakan oleh para praktisi, birokrat, dan politisi di sekitar pembiayaan pendidikan pun baru menyentuh aspek kebutuhan siswa sebagai unit analisnya, belum menghitung kebutuhan institusi sekolah sebagai sebuah pendekatan penjaminan mutu (quality assurance). Agar anggaran pendidikan 20% yang diamanatkan undang-undang dapat diserap secara efisien dan transparan, perlu dipikirkan skema-skema pembiayaan pendidikan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis, bukan lagi kebutuhan siswa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis satuan biaya pendidikan dasar dan menengah, Abbas Ghozali (2004) memperkenalkan ragam nomenklatur biaya satuan pendidikan yang dimaksudkan untuk mengetahui rekam jejak kebutuhan pembiayaan siswa per-anak per-tahun, dalam rangka menghitung besaran uang yang harus ditanggung orang tua dan subsidi yang harus disediakan pemerintah. Hasil penelitian tersebut cukup membantu dalam menjelaskan kemampuan orang tua dan pemerintah sebagai kerangka konseptual untuk mengetahui informasi dasar tentang biaya satuan pendidikan (BSP), tetapi sayang tak mampu menjelaskan tentang pembiayaan pendidikan yang berorientasi pada mutu dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisisnya. Dalam konteks ini pengalaman Sekolah Sukma Bangsa mungkin dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendeteksi pembiayaan sekolah berbasis kualitas, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa studi tentang dampak kualitas sekolah terhadap capaian akademis siswa mengindikasikan pentingnya menciptakan sebuah budaya sekolah yang sehat secara manajemen. Dalam skema pembiayaan pendidikan, keberhasilan siswa dalam paradigma lama selalu bergantung pada kemampuan finansial orang tua dan karakter psikologis siswa serta menafikan kemampuan manajerial dan budaya sekolah (JS Coleman, Equality of Education Opportunity, 1966). Dalam banyak hal, kementerian pendidikan nasional sejauh ini belum mampu membangun sebuah budaya sekolah yang komprehensif dan visioner pada tingkat sekolah. Karena itu kebutuhan untuk membangun suasana belajar yang positif dan kondusif tidak jarang belum termasuk dalam komponen dan indikator pembiayaan pendidikan. Padahal jika kita merujuk pada hasil studi lainnya yang dilakukan oleh Rob Greenwald, et al, dalam The Effect of School Resources on Student Achievement, Review of Educational Research (1996), jelas terlihat strategi pembiayaan pendidikan di sekolah sangat berpengaruh terhadap capaian siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peneliti mencoba untuk memecahkan kebuntuan pembiayaan yang berkaitan dengan pembangunan budaya sekolah sebagai bagian dari kebutuhan pokok sekolah dan berkaitan langsung dengan keberhasilan siswa, terutama dengan melihat tren pembiayaan pendidikan secara statistikal. Dengan menggunakan regresi statistikal, terlihat bahwa hubungan capaian akademis siswa dengan budaya sekolah tidak memiliki ikatan yang kuat karena pada prinsipnya siswa memiliki latar belakang budaya dan etnik yang berbeda. Jika hanya mengacu pada indikator kebutuhan siswa per-orang per-tahun, rumusan yang muncul biasanya sangat bersifat numerik dan dalam bahasa Eric Hanushek disebut sebagai production-function studies, dalam beberapa hal terlihat hubungan yang tidak selamanya positif antara semakin besar dana yang digunakan dalam proses pendidikan dengan capaian akademis siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya cukup mengagetkan, There is no strong or systematic relationship between school expenditures and student performance. (Eric Hanushek, The Impact of Differential Expenditures on School Performance, Educational Researcher: 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Sukma Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memulai sekolah di tahun ajaran 2006, optimisme para pengelola Sekolah Sukma Bangsa (SSB) sebenarnya belumlah tinggi. Input sekolah ini adalah anak-anak korban tsunami, korban konflik, yatim piatu, dan fakir miskin, bahkan dengan kemampuan akademis di bawah rata-rata anak sekolah di luar Aceh. Tetapi dengan visi ingin menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif, seluruh manajemen sekolah mencoba menerapkan beberapa strategi dasar pembiayaan sekolah yang mengacu pada penciptaan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Beberapa strategi yang dikembangkan SSB mengacu pada visi dan misi sekolah sebagai sarana untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang positif bagi para siswa. Karena itu, sejak awal SSB memperkenalkan budaya moving-class, perluasan makna guru, dan penciptaan jejaring sehingga memungkinkan sekolah untuk memperoleh kritik sekaligus masukan dari para stakeholders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pembiayaan moving class ternyata berimplikasi positif terhadap budaya belajar siswa. Guru diwajibkan berkreasi menciptakan sebanyak mungkin class project activities yang tidak hanya berbasis kebutuhan proses belajar-mengajar di kelas tetapi juga di ruang terbuka seperti koridor dan halaman sekolah, perpustakaan, dan lingkungan sekitar. Ketika makna kelas diperluas menjadi keseluruhan sarana-prasarana yang tersedia baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, kreativitas dan usulan proses pembelajaran tidak jarang muncul dari siswa itu sendiri. Karena itu, baik guru maupun siswa memiliki hak yang sama untuk mengusulkan sebuah proses pembelajaran, pada tahap akhirnya menjadi kewajiban guru untuk membuat proposal pembiayaan aktivitas kelas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perluasan makna guru juga berimplikasi pada kemampuan manajemen sekolah dalam mengidentifikasi sumber daya yang tersedia, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan komunitas sekolah (stakeholders). Di SSB, konsep guru diperluas bukan saja guru di sekolah, bahkan seorang tukang becak, paramedis puskesmas, polisi, satpam, cleaning service, hingga bupati adalah sumber daya guru yang harus diberi kesempatan untuk mengajar di kelas. Kepandaian guru dan murid dalam menentukan guest teacher untuk mata ajar tertentu setiap dua minggu sekali adalah sebuah proses yang mengasyikkan. Lagi-lagi kecermatan, kecerdasan, dan kreativitas guru dengan siswa dalam mengundang guru tamu harus dituangkan dalam sebuah proposal yang jelas berikut pembiayaannya. Pengalaman memaknai perluasan arti guru dengan sendirinya memacu guru itu sendiri untuk pandai membuat proposal dan membaca banyak buku sebagai rujukan proses pembelajaran. Dengan demikian, prinsip self-training seperti yang pernah dijabarkan oleh Thomas Gordon dalam Teacher Effectiveness Training menjadi lebih mudah untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun strategi ketiga, yaitu menciptakan jejaring dengan seluruh komunitas sekolah adalah dalam rangka menciptakan kemitraan antara satu sekolah dan yang lainnya. Dengan menggunakan pendekatan sebagai pusat sumber belajar bersama (common learning resources center), SSB menawarkan diri kepada sekolah-sekolah sekitar untuk bekerja sama dalam melakukan proses belajar-mengajar. Tujuan dari strategi ini adalah dalam rangka memberikan ruang yang luas kepada sekolah untuk mempelajari apa saja yang mereka inginkan dari lingkungan sekitar, akhirnya dapat menopang posisi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini beberapa bentuk kegiatan kerja sama luar sekolah yang telah dilakukan SSB meliputi kegiatan tutoring, mentoring, magang (internship), kunjungan lapangan, kemah siswa, serta pengadaan bahan ajar dan suplai pendidikan lainnya yang difasilitasi melalui koperasi sekolah. Perjalanan masih panjang bagi SSB. Tetapi pengalaman membuat perencanaan pembiayaan pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen sekolah paling tidak telah membuka mata SSB untuk berkembang menjadi A school thats learn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Media &lt;st1:country-region _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; Online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-1126109699236302389?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1126109699236302389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1126109699236302389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2009/10/pembiayaan-sekolah-berbasis-kualitas.html' title=''/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-1517802058356986792</id><published>2009-01-23T17:43:00.000+07:00</published><updated>2009-09-28T23:25:46.989+07:00</updated><title type='text'>Renungan Jiwa</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kebahagiaan Dambaan Psikologi dan Tasawuf&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh H.D. Bastaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan, bahkan kaum beragama&lt;br /&gt;mendambakan kebahagiaan dan kebaikan tidak saja di dunia, tetapi juga di&lt;br /&gt;ahirat. Tetapi kenyataan sering menunjukkan cukup banyak orang yang&lt;br /&gt;bahagia dan cukup banyak pula yang tidak bahagia hidupnya. Mereka memiliki&lt;br /&gt;latar belakang yang berbeda-beda, bahkan ada orang-orang yang merasa&lt;br /&gt;bahagia dan ada juga yang tak bahagia padahal mereka hidup di suatu&lt;br /&gt;lingkungan sama.  Apa artinya? Artinya kebahagiaan tidak berkaitan dengan&lt;br /&gt;latar belakang usia, jenis seks, kekayaan, rumah tangga, pendidikan dan&lt;br /&gt;kondisi lingkungan. Jadi siapa pun bisa berbahagia dan bisa juga menjadi&lt;br /&gt;tak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada dua sudut pandang mengenai hidup bahagia yakni sudut pandang agama dan&lt;br /&gt;sudut pandang psikologi. Sudut pandang agama, khususnya Tasauf Islam,&lt;br /&gt;pada dasarnya menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki diperoleh bila kita&lt;br /&gt;senantiasa dekat dan mendekatkan diri kepada Maha Pemilik dan Maha Sumber&lt;br /&gt;segala Kebahagiaan yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Caranya dengan mengikuti, menaati dan menerapkan sebaik-baiknya tuntunan&lt;br /&gt;agama dalam kehidupan sehari-hari, karena agama banyak memberi petunjuk&lt;br /&gt;mengenai asas-asas dan cara-cara meraih keselamatan dan kebahagian di&lt;br /&gt;dunia dan di ahirat.  Dan agama pun mengajarkan bahwa manusia mampu meraih&lt;br /&gt;kebahagiaan, asalkan ia berusaha mengubah keadaan diri mereka menjadi&lt;br /&gt;lebih baik. Dalam pandangan agama Islam, manusia benar-benar mampu&lt;br /&gt;mengubah nasibnya sendiri ("Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan&lt;br /&gt;sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka&lt;br /&gt;sendiri " (Q.S. al-Ra'ad/13: 11) .&lt;br /&gt;Di lain pihak tinjauan psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan (happiness)&lt;br /&gt;merupakan hasil sampingan (by product) atau ganjaran (reward) atas&lt;br /&gt;keberhasilan meraih hal-hal yang penting dan bermakna bagi seseorang. Apa&lt;br /&gt;yang penting dan berharga bagi seseorang? Sangat bersifat pribadi dan&lt;br /&gt;unik, artinya setiap orang memiliki dambaan khusus yang berlainan satu&lt;br /&gt;sama lain, seperti kekeluargaan, persahabatan, pendidikan, pekerjaan,&lt;br /&gt;tugas sosial, prestasi atau prestise, harta dan kekayaan, kesehatan dan&lt;br /&gt;kebugaran, ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai-nilai luhur dan hal-hal&lt;br /&gt;yang bersifat rohaniah.&lt;br /&gt;Seperti halnya agama, psikologi pun mengakui bahwa setiap manusia mampu&lt;br /&gt;menentukan dan mengubah kondisi hidupnya. Manusia dijuluki "the self&lt;br /&gt;determining being" yakni mahluk yang mampu menentukan hidupnya menurut apa&lt;br /&gt;yang dianggap sesuai dan terbaik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PSIKOLOGI ATAS KEBAHAGIAAN&lt;br /&gt;Kita akan menyimak pandangan seorang pakar psikologi humanistik (dan&lt;br /&gt;psikiatri eksistensial) bernama Viktor Frankl (1905 - 1997). Ia seorang&lt;br /&gt;keturunan Yahudi asal Wina, Austria, yang selamat dari empat&lt;br /&gt;kam-konsentrasi kaum Nazi (Dachau, Maidek, Treblinka, Auschwitz) pada&lt;br /&gt;waktu Perang Dunia II dan pendiri aliran Logoterapi. Sesuai dengan akar&lt;br /&gt;kata logos yang berarti makna, Logoterapi menyatakan bahwa dambaan,&lt;br /&gt;hasrat, tujuan utama setiap manusia adalah kehidupan yang bermakna&lt;br /&gt;(meaningful life). Artinya setiap orang (normal) menginginkan dirinya&lt;br /&gt;berharga, penting, bermartabat dan berarti bagi dirinya sendiri, keluarga,&lt;br /&gt;lingkungan masyarakat dan berharga di mata Tuhan. Being Somebody, istilah&lt;br /&gt;psikologinya. Bila hal itu dapat diraih, ganjarannya adalah rasa bahagia&lt;br /&gt;atau kebahagiaan. Jadi dalam tataran psikologi, kebahagiaan tidak begitu&lt;br /&gt;saja diperoleh, tetapi menuntut upaya lebih dahulu untuk meraih hidup&lt;br /&gt;bermakna.&lt;br /&gt;Unsur-unsur Hidup Bermakna&lt;br /&gt;Dalam pandangan Logoterapi sekurang-kurangnya ada 7 (tujuh) unsur penting&lt;br /&gt;yang saling terkait dalam upaya mengembangkan hidup yang bermakna yakni:&lt;br /&gt;Hasrat untuk Hidup Bermakna, Makna Hidup, Metode Menemukan Makna Hidup,&lt;br /&gt;Gambaran Hidup Bermakna/Bahagia, Keteladanan, Asas-asas Sukses dan Do'a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk Hidup Bermakna&lt;br /&gt;Setiap orang senantiasa menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna&lt;br /&gt;dan berharga bagi dirinya sebdiri, keluarga, lingkungan kerja dan&lt;br /&gt;masyarakat sekitar, bahkan berharga di mata Tuhan. Ayah dan ibu misalnya&lt;br /&gt;ingin menjadi orang tua yang mengasihi, dikasihi dan dihormati seluruh&lt;br /&gt;keluarganya, serta mampu menjalankan dengan sebaik-baiknya fungsinya&lt;br /&gt;sebagai orang tua. Sebaliknya bila ia seorang anak tentu ia ingin menjadi&lt;br /&gt;anak  berbakti yang dikasihi dan menjadi kebanggaan keluarga. Dan setiap&lt;br /&gt;orang pasti menginginkan bagi dirinya suatu cita-cita dan tujuan hidup&lt;br /&gt;penting yang  akan diperjuangkannya dengan penuh semangat, sebuah tujuan&lt;br /&gt;hidup yang menjadi arahan segala kegiatannya.&lt;br /&gt;Sebaliknya ia tidak menginginkan dirinya menjadi orang yang hidup tanpa&lt;br /&gt;tujuan, sehingga ia sendiri menjadi bingung karena tak terarah dan tidak&lt;br /&gt;mengetahui apa yang akan dilakukannya. Itulah sekelumit gambaran mengenai&lt;br /&gt;hasrat manusia diantara sekian banyak keinginan lainnya yang bila&lt;br /&gt;direnungkan ternyata menggambarkan hasrat yang paling mendasar dari setiap&lt;br /&gt;orang yaitu hasrat untuk hidup bermakna.4 Keinginan untuk hidup bermakna&lt;br /&gt;benar-benar merupakan motivasi utama setiap manusia. Hasrat inilah yang&lt;br /&gt;memotivasi setiap orang melakukan berbagai kegiatan -seperti kegiatan&lt;br /&gt;bekerja dan berkarya- agar kehidupannya dirasakan berguna, berharga dan&lt;br /&gt;bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Hidup&lt;br /&gt;Makna Hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta&lt;br /&gt;memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan&lt;br /&gt;hidup. Makna hidup sering dinamakan juga nilai atau hikmah kehidupan yakni&lt;br /&gt;kebajikan dan manfaat besar yang terkandung dalam berbagai peristiwa dan&lt;br /&gt;pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;Bila nilai-nilai dan hikmah kehidupan itu telah disadari dan berhasil&lt;br /&gt;dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan&lt;br /&gt;pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia. Contohnya, seorang ibu&lt;br /&gt;yang mengasihi anaknya akan merasa senang dan bahagia bila berhasil&lt;br /&gt;memberikan sesuatu yang telah lama diinginkan anaknya.&lt;br /&gt;Makna hidup atau hikmah kehidupan terdapat dalam kehidupan itu sendiri,&lt;br /&gt;dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan atau tidak&lt;br /&gt;menyenangkan. Ungkapan-ungkapan sehari-hari seperti "Makna dalam Derita"&lt;br /&gt;(Meaning in Suffering) atau "Hikmah dalam Musibah" (Blessing in Disguise)&lt;br /&gt;menunjukkan bahwa dalam penderitaan sekalipun makna dan hikmah kehidupan&lt;br /&gt;tetap dapat ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber Makna Hidup&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini sekurang-kurangnya ada empat hal yang dianggap sebagai&lt;br /&gt;sumber makna hidup, karena dalamnya dapat ditemukan berbagai hikmah&lt;br /&gt;kehidupan yang menyebabkan hidup bermakna apabila hal itu berhasil&lt;br /&gt;dipenuhi. Keempat sumber makna hidup itu adalah:&lt;br /&gt;Karya: kegiatan bekerja, mencipta, serta melaksanakan tugas dan&lt;br /&gt;kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab serta berbuat&lt;br /&gt;kebajikan bagi orang lain dan diri sendiri.&lt;br /&gt;Penghayatan: keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai kebenaran,&lt;br /&gt;kebajikan, keindahan, keimanan, dan cinta kasih.&lt;br /&gt;Sikap: menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala&lt;br /&gt;bentuk penderitaan yang tak mungkin dihindari lagi -seperti sakit yang&lt;br /&gt;tak dapat disembuhkan, kematian orang yang dikasihi- setelah berbagai&lt;br /&gt;upaya untuk mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetapi tetap tak&lt;br /&gt;berhasil.&lt;br /&gt;Harapan: keyakinan akan terjadinya perubahan yang lebih baik dan&lt;br /&gt;bermanfaat pada waktu mendatang.&lt;br /&gt;Sekalipun makna hidup ini dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri dan&lt;br /&gt;setiap orang dewasa (seharusnya) mampu menemukannya sendiri, tetapi dalam&lt;br /&gt;kenyataannya hal itu tidak selalu mudah ditemukan. Makna hidup biasanya&lt;br /&gt;tersirat dan tersembunyi dalam kehidupan, sehingga perlu dipahami metode&lt;br /&gt;dan cara-cara menemukannya.&lt;br /&gt;Metode Menemukan Makna Hidup&lt;br /&gt;Di bawah ini diajukan 5 (lima) metode menemukan makna hidup, yakni:&lt;br /&gt;Pemahaman Diri: Mengenali berbagai kekuatan dan kelemahan diri sendiri&lt;br /&gt;(dan lingkungan), baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah&lt;br /&gt;teraktualisasi. Dan makna hidup dan hidup yang bermakna diperoleh bila&lt;br /&gt;kekuatan-kekuatan itu berhasil dikembangkan dan kelemahan-kelemahan&lt;br /&gt;dihambat dan dikurangi;&lt;br /&gt;Bertindak Positif: Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berpikir&lt;br /&gt;positif. Artinya, mencoba melaksanakan dalam perbuatan nyata: niat baik,&lt;br /&gt;pikiran-pikiran positif dan hal-hal yang dianggap bermanfaat. Makna&lt;br /&gt;hidup dan hidup yang bermakna akan benar-benar terjadi bila hal-hal&lt;br /&gt;positif itu terperangai dan dibiasakankan dalam kehidupan sehari-hari;&lt;br /&gt;Pengakraban Hubungan:  Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik&lt;br /&gt;dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, tetangga,&lt;br /&gt;teman, rekan kerja), sehingga masing-masing merasa saling menyayangi,&lt;br /&gt;saling mempercayai, saling membutuhkan, dan bersedia bantu-membantu.&lt;br /&gt;Dalam keakraban, persahabatan, persaudaraan dan silaturahim itulah makna&lt;br /&gt;hidup dan hidup yang bermakna benar-benar terwujud;&lt;br /&gt;Pemenuhan sumber-sumber makna hidup: Berupaya untuk mendalami, memahami,&lt;br /&gt;menjabarkan dan memenuhi keempat sumber makna hidup yaitu: Karya,&lt;br /&gt;Penghayatan, Sikap dan Harapan. Makna hidup dan hidup yang bermakna akan&lt;br /&gt;diperoleh bila kita berhasil merealisasi keempat sumber makna hidup&lt;br /&gt;tersebut dalam kehidupan sehari-hari;&lt;br /&gt;Ibadah: Mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cara-cara yang&lt;br /&gt;diajarkanNya. Bentuk ibadah yang paling sederhana tetapi merupakan inti&lt;br /&gt;ibadah adalah doa. Dengan beribadah dan berdoa, kita merasa tenteram dan&lt;br /&gt;terbimbing tindakan-tindakan kita. Menghayati kedekatan dengan Sang&lt;br /&gt;Pencipta akan mengembangkan penghayatan hidup yang sangat bermakna.&lt;br /&gt;Gambaran Hidup Bermakna dan Bahagia&lt;br /&gt;Hidup bahagia adalah kehidupan yang menyenangkan, penuh semangat dan&lt;br /&gt;gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dan cemas. Hal ini antara lain&lt;br /&gt;ditandai oleh hubungan antar pribadi (khususnya hubungan keluarga) yang&lt;br /&gt;penuh keakraban, rukun dan saling menghormati dan menyayangi, bantu&lt;br /&gt;membantu dalam kebajikan, melakukan berbagai kegiatan yang menghasilkan&lt;br /&gt;karya-karya bermanfaat, memiliki tujuan hidup yang jelas, meningkatkan&lt;br /&gt;cara berpikir dan bertindak positif, serta berupaya secara optimal untuk&lt;br /&gt;mengembangkan potensi dirinya (fisik, mental, sosial, spiritual) dan orang&lt;br /&gt;lain. Orang-orang yang bahagia memiliki kepribadian sehat - antara lain&lt;br /&gt;ditandai oleh tubuh yang sehat, otak cemerlang, akhlak luhur, sikap tegas,&lt;br /&gt;perasaan lembut, keyakinan yang mantap, dan luwes dalam pergaulan- yang&lt;br /&gt;tentu saja menjadi idaman setiap orang. Orang-orang berbahagia adalah&lt;br /&gt;mereka yang pandai bersyukur dan ingin agar orang-orang lain pun dapat&lt;br /&gt;meraih kebahagiaan seperti diri mereka. Kehadiran orang yang berbahagia&lt;br /&gt;biasanya "menularkan" rasa bahagia pula pada orang-orang yang bersamanya.&lt;br /&gt;Keteladanan&lt;br /&gt;Dalam proses pengembangan pribadi dan meraih cita-cita diperlukan role&lt;br /&gt;model yaitu pribadi tertentu yang dikagumi dengan perilaku, sikap, sifat,&lt;br /&gt;prestasi dan nilai-nilai hidupnya layak diteladani. Proses ini sebenarnya&lt;br /&gt;terjadi sejak awal saat anak-anak meniru tingkah laku dan penampilan orang&lt;br /&gt;tua, saudara, teman, dsb. Berbeda dengan anak-anak (dan remaja) yang&lt;br /&gt;sering meniru-niru tampilan fisik, pada orang-orang dewasa yang diteladani&lt;br /&gt;dan diambil alih adalah nilai-nilai hidup yang ada pada tokoh teladan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas-asas Sukses&lt;br /&gt;Seperti halnya Hukum Gravitasi yang berlaku abadi dialam fisik terdapat&lt;br /&gt;banyak sekali hukum dan asas-asas keberhasilan hidup.  Skip Ross,  seorang&lt;br /&gt;ahli psikologi mengemukakan 10 prinsip sukses yang diyakininya dan telah&lt;br /&gt;diuji coba sendiri dan terbukti berhasil.  Lima diantara ke 10 asas itu&lt;br /&gt;adalah sbb.&lt;br /&gt;Asas Memberi. Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain dengan&lt;br /&gt;tulus, satu saat kita akan menerimanya kembali berlipat ganda entah dari&lt;br /&gt;mana datangnya. Ini berlaku tidak saja untuk materi tetapi juga non&lt;br /&gt;materi. Bila kita memberikan penghargaan atau pujian kepada seseorang&lt;br /&gt;maka pada suatu saat kita akan menerima hal serupa lebih banyak dan&lt;br /&gt;lebih baik. Oleh karena itu biasakan memberikan hal-hal yang baik kepada&lt;br /&gt;orang-orang lain;&lt;br /&gt;Asas Menyingkirkan. Singkirkan hal-hal yang tidak kita inginkan untuk&lt;br /&gt;memberi peluang berkembangnya hal-hal yang kita inginkan. Tentu saja hal&lt;br /&gt;ini berlaku pula untuk kebiasaan dan sifat-sifat buruk. Usahakan untuk&lt;br /&gt;mengurangi/ menghilangkan sifat dan kebiasaan-kebiasaan buruk kita,&lt;br /&gt;karena lambat laun akan digantikan dengan hal-hal positif yang&lt;br /&gt;berkembang dalam  diri kita, sadar ataupun tidak sadar;&lt;br /&gt;Asas Ucapan. Apapun yang anda ungkapkan secara lisan akan benar-benar&lt;br /&gt;terjadi. Seperti halnya imajinasi ucapanpun mempunyai kekuatan untuk&lt;br /&gt;mewujudkan apa yang diucapkan (baik atau buruk). Oleh karena itu&lt;br /&gt;hati-hatilah dengan ucapan. Singkatnya selalu ucapkan yang baik-baik&lt;br /&gt;saja;&lt;br /&gt;Asas Antusias. Mencurahkan segenap daya dan upaya terhadap setiap&lt;br /&gt;kegiatan yang dilakukan. Antusiasme memancarkan semangat dan semangat&lt;br /&gt;akan mempercepat diraihnya hal-hal yang besar.  Antusias sebenarnya&lt;br /&gt;merupakan sikap mental dan cara hidup yang terpancar dari wajah, sinar&lt;br /&gt;mata, cara bicara dan gerak gerik yang penuh semangat. Antusiasme sulit&lt;br /&gt;untuk diajarkan tetapi dapat ditularkan. Seorang yang antusias akan&lt;br /&gt;menarik orang-orang lain untuk bersemangat pula;&lt;br /&gt;Asas Kegigihan. Melakukan sesuatu terus menerus sampai tuntas sekalipun&lt;br /&gt;banyak mengalami rintangan dan penolakan. Persistensi adalah ketekunan&lt;br /&gt;dan kegigihan serta sikap mantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Pengembangan Hidup Bermakna&lt;br /&gt;Atas dasar unsur-unsur tersebut, seseorang yang ingin mengembangkan&lt;br /&gt;kehidupan yang bermakna perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama, memantapkan niat untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih&lt;br /&gt;bermakna dan menyadari potensi diri, antara lain kemampuan untuk mengubah&lt;br /&gt;kondisi diri menjadi lebih baik, serta memiliki gambaran jelas mengenai&lt;br /&gt;kualitas hidup yang diidam-idamkan. Kemudian, memahami makna dan&lt;br /&gt;sumber-sumber makna hidup, mengetahui cara-cara menemukannya, serta secara&lt;br /&gt;sadar mengarahkan diri pada citra diri yang diidam-idamkan dengan&lt;br /&gt;keteladanan yang jelas. Dan menerapkan Asas-asas Sukses dalam melaksanakan&lt;br /&gt;semuanya serta tidak lupa untuk senantiasa berdo'a dan beribadah kepada&lt;br /&gt;Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang agar kehidupan ini senantiasa dipenuhi&lt;br /&gt;keberkatan yang melimpah ruah ke sekitarnya. Keberhasilan mengembangkan&lt;br /&gt;hidup yang bermakna itu akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri pada para&lt;br /&gt;pelakunya.&lt;br /&gt;KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN TASAUF&lt;br /&gt;Telah dijelaskan bahwa  kebahagiaan dalam pandangan agama diperoleh dengan&lt;br /&gt;jalan mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai Maha Pemberi Kebahagiaan&lt;br /&gt;melalui ibadah dan cara-cara yang diajarkanNya. Dalam hal ini Tasauf Islam&lt;br /&gt;sebagai dimensi ihsan dalam Agama Islam yang terutama mengolah daya-daya&lt;br /&gt;ruhani manusia dalam proses mendekatkan diri pada Allah SWT tentu&lt;br /&gt;mengembangkan pula cara-cara mendekatkan diri secara ruhaniah kepadaNya.&lt;br /&gt;Sekalipun pengetahuan mengenai ruh ini sedikit sekali diberikanNya kepada&lt;br /&gt;manusia, tetapi dari yang sedikit itu Tasauf Islam dapat menggambarkan&lt;br /&gt;karakteristik ruh antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah atau bumi.&lt;br /&gt;Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani dan jiwa manusia.&lt;br /&gt;Ruh yang berasal dari Allah SWT itu merupakan sarana pokok untuk munajat&lt;br /&gt;kepadaNya.&lt;br /&gt;Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur atau tak sadar, bahkan mati.d.Ruh&lt;br /&gt;dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tetapi dapat pula dibersihkan&lt;br /&gt;dan menjadi suci.&lt;br /&gt;Tasauf mengikutsertakan ruh dalam beribadah kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Tasauf melatih untuk menyebut Kalimah Allah tidak saja sampai pada taraf&lt;br /&gt;kesadaran lahiriah, tetapi juga tembus ke dalam alam ruhaniah di atas&lt;br /&gt;alam sadar. Kalimah Allah yang termuat dalam ruh pada gilirannya dapat&lt;br /&gt;membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.&lt;br /&gt;Ruh diciptakan jauh sebelum manusia dilahirkan, berfungsi selama manusia&lt;br /&gt;hidup, dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk&lt;br /&gt;mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ia hidup ke hadlirat Tuhan.&lt;br /&gt;Jadi ruh itu ada dalam diri manusia, tetapi tak-kasatmata (invisible)&lt;br /&gt;karena sangat halus dan gaib sifatnya. Selain itu dimensinya jauh lebih&lt;br /&gt;tinggi dari alam pikiran, dan tahapannya pun di atas alam sadar&lt;br /&gt;(Super-conscious). Ruh ini bukan sembarang ruh, melainkan ruh yang&lt;br /&gt;sangat tinggi, indah dan lembut yang dikurniakan Allah kepada manusia&lt;br /&gt;melalui "hembusanNya" (QS. Al-Sajadah, 32: 9).&lt;br /&gt;Gambaran Umum mengenai Tasauf&lt;br /&gt;Tasauf sebagai salah satu pilar Al Islam sejauh ini paling banyak membahas&lt;br /&gt;dan mengolah ruhani manusia dengan tujuan antara lain agar manusia mampu&lt;br /&gt;mengembangkan akhlak yang baik serta senantiasa berusaha hidup dalam&lt;br /&gt;bimbingan dan keridhaanNya. Bagaimana metode Tasauf untuk meningkatkan&lt;br /&gt;derajat ruhani manusia antara lain dapat diketahui dari kegiatan&lt;br /&gt;pengamalan-pengamalannya  di berbagai "padepokan" tasauf. Bila kita&lt;br /&gt;cermati kehidupan di setiap perguruan tasauf biasanya terjadi kegiatan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;Seorang ulama ahli tasauf (dibantu para asistennya) mengajarkan dan&lt;br /&gt;melatih murid-murid mempelajari dan mengamalkan agama pada umumnya, dan&lt;br /&gt;secara husus menggalakkan dzikrullah (dan wiridan-wiridan nawafil lainnya)&lt;br /&gt;didasarkan pada sistem tarekat yang dikembangkan di perguruan itu. Dengan&lt;br /&gt;demikian kegiatan tasauf sekurang-kurangnya melibatkan empat unsur yakni:&lt;br /&gt;Mursyid, Murid, Tarekat, dan Amalan.  Sederhana sekali, tetapi di balik&lt;br /&gt;kesederhanaan itu terdapat kegiatan olah-ruhani yang sangat tinggi, halus,&lt;br /&gt;dan mendasar dalam menghampirkan ruhani manusia kepada Sang Pencipta&lt;br /&gt;dengan jalan mengikuti jejak ruhaniah Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Pilar-pilar Tasauf&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu kerangka pikir tasaufi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Muhammad Rasulullah SAW tentu dikurniakan Allah SWT sarana  hubungan gaib&lt;br /&gt;denganNya. Sarana ini disebut washilah yang tidak lain adalah Nur Ilahi&lt;br /&gt;atau Nuurun alan Nuurin (QS. An Nuur: 35),  dan dengan demikian Nabi&lt;br /&gt;Muhammad SAW adalah pembawa washilah (the washilah carrier).  Washilah ini&lt;br /&gt;diajarkan dan diwariskan beliau kepada para sahabat utama ahli ruhani, dan&lt;br /&gt;dari sana diturunkan pula dari jaman ke jaman kepada para aulia akbar yang&lt;br /&gt;dalam dunia tasauf lazim disebut para ahli silsilah.&lt;br /&gt;Dengan demikian beliau-beliau pun berfungsi sebagai pembawa washilah untuk&lt;br /&gt;diajarkan kepada kaum muslimin dan muslimat melalui metode tasauf yang&lt;br /&gt;tujuannya tak lain adalah untuk meraih RidhaNya.  Di sisi lain terdapat&lt;br /&gt;manusia-manusia dengan segala duka-nestapanya yang senantiasa mendambakan&lt;br /&gt;kebahagiaan hidup lahiriah dan ruhaniah yang senantiasa terbimbing dalam&lt;br /&gt;RidhaNya. Dalam hal inilah Tasauf di bawah kepemimpinan Al Mursyid&lt;br /&gt;menawarkan metodologi (thariqatullah) bagaimana ruhani kita Insya Allah&lt;br /&gt;berimam-tahkik kepada Arwahul muqaddasah Rasulullah SAW guna mendapat&lt;br /&gt;kurnia washilah dalam rangka mendapatkan RidhaNya.&lt;br /&gt;Perlu dijelaskan bahwa  pemikiran tasaufi ini samasekali tidak mengubah&lt;br /&gt;sezarah pun asas-asas dan aturan akidah dan syariah Islam yang sudah&lt;br /&gt;settled, tetapi menjelaskan secara ilmiah metafisika bagaimana peranan&lt;br /&gt;Washilah (Nuurun alan Nuurin) sebagai salah satu "pintu menuju Tuhan"&lt;br /&gt;dalam proses munajat kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Dalam ini Tasauf Islam di bawah kepimpinan Al Mursyid mengajarkan agama&lt;br /&gt;Islam secara menyeluruh (kaaffah) dan dengan metode tarekatnya melatih dan&lt;br /&gt;menggalakkan dzikrullah guna mengembangkan akhlak mulia, meningkatkan&lt;br /&gt;kekhusyukan ibadah, dan meningkatkan amal shaleh. Dan dalam naungan Ridha&lt;br /&gt;Allah SWT, syafaat Rasulullah SAW dan karomah para Aulia Pembawa Washilah&lt;br /&gt;serta bimbingan Al Mursyid dambaan kebahagiaan hakiki Insya Allah dapat&lt;br /&gt;diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORDIBA Sawangan, 20 Mei 2008&lt;br /&gt;Drs. Hanna Djumhana Bastaman, M Psi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-1517802058356986792?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1517802058356986792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/1517802058356986792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2009/01/renungan-jiwa.html' title='Renungan Jiwa'/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8277202173385000520.post-4813268761521818435</id><published>2008-02-14T22:56:00.000+07:00</published><updated>2009-09-28T23:30:02.289+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pesan Seorang Filsuf</title><content type='html'>Sebuah fenomena yang menggejala saat ini di suatu belahan wilayah yakni kerap terjadi pertikaian atau tawuran antar desa, antar kampung, bahkan antar blok dalam satu desa. Padahal disitu ada teman, kerabat, bahkan keluarga. Fenomena ini memprihatinkan, khawatir merambah ke lingkungan-lingkungan yang lebih kecil, termasuk lembaga pendidikan/sekolah. Sebenarnya apa penyebab gejala tersebut? Mungkin tidak mudah menjawab pertanyaan itu dan karena memang komplek.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang filsuf Islam dibidang kemasyarakatan bernama Ibnu Khaldun, kelahiran Afrika tiga abad yang lalu mengisyaratkan bahwa sebuah masyarakat (negara) tidak akan mampu berdiri kokoh alias akan hancur apabila didalamnya tidak ada lagi kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan persatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan itu terjadi pada lingkup yang dekat dengan kita, lingkungan sekolah. Dimana kebersamaan, rasa kekeluargaan, persahabatan tidak lagi menjadi suatu nilai yang dijunjung tinggi. Norma adat, sopan santun, dan solidaritas tidak lagi menjadi landasan pergaulan. Mampukah kita ini tetap eksis sebagai sivitas akademika alias masyarakat pendidikan? Atau mungkin akan berubah menjadi lingkungan yang asosial atau mungkin abnormal yang dipenuhi paranormal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja yang diharapkan adalah yang baik. Untuk itu, ada empat hal yang harus diperhatikan:&lt;br /&gt;1. Tumbuhkan rasa kebersamaan, persahabatan, dan rasa persaudaraan&lt;br /&gt;2. Jangan sekali-kali saling mengejek, mencaci, dan menghina.&lt;br /&gt;3. Hindari perbuatan memfitnah orang lain.&lt;br /&gt;4. Bersikaplah sopan santu, bertatakrama, dan berbuat adil dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8277202173385000520-4813268761521818435?l=abiyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/4813268761521818435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8277202173385000520/posts/default/4813268761521818435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abiyadi.blogspot.com/2008/02/pesan-sorang-filsuf.html' title='Pesan Seorang Filsuf'/><author><name>Yad.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05448364385376747641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nh3gxl_OFBg/R7Rd0d6AU8I/AAAAAAAAAAM/Mrw56Y01O3E/S220/Style+hardb%26w.jpg'/></author></entry></feed>
